Rabu, 08 Januari 2020

"Celoteh Bengak

Mungkin sebuah nasib ataukah takdir?

Pernah nak jadi seorang penyair, tapi kosakata kurang... Hanya terdengar seperti celoteh nyinyir...
Pernah juga nak jadi penyanyi, apalah daya suara tak sampai... Hanya terlihat seperti orang sedang memaki....
Ah....ntahlah.....beranikan diri banting stir jadi montir, bongkar mesin tangan terkilir...
Coba pulak jadi juru parkir, mundur-mundur malah tergelincir....
Ntah apa nak dibuat, jadi tukang angkat badan tak kuat....
Nak jadi pedagang, habis modal kena bedal
Nak jadi pengusaha kuliner, buat makan sendiri pun keblinger....
Mungkin sebuah nasib ataukah takdir?
Akhirnya dapat kerja di kantor, pakaian bersih tapi otaknya yang kotor, hanya pandai tipu-tipu saat ngelapor....
Nasib yang tak mujur kah atau takdir yang buat tersingkir....
Coba semua, gagal semua......
Kerja keras hanya buat makin beringas....
Terlalu Semangat hanya buat badan sekarat...
Ambisi tinggi hanya buat jiwa berhalusinasi...

Mungkin sebuah nasib ataukah takdir...


Minggu, 17 Februari 2019

Bukan itu

#goresan tangan 180918
#pecundangSejati
Bukan puisi

Ini bukan sebuah puisi
Yang berisikan romantisnya cinta
Ini hanyalah goresan tangan sang pendusta
Yang tak mampu untuk mengarungi lautan dosa

Ini bukan sebuah puisi
Yang berisikan indahnya alam semesta
Ini hanyalah goresan tangan sang pecundang
Yang tak mampu untuk berjuang jadi pemenang

Ini bukan sebuah puisi
Yang berisikan kata menembus imajinasi
Ini hanyalah luapan emosi sang kurcaci
Yang tak mampu berdiri untuk harga diri

Ini bukan puisi
Yang berisikan untaian kata menggoda
Ini hanyalah ungkapan hati yang tersakiti
Yang tak mampu dikhianati sebuah ambisi

Ini bukan puisi
Ini hanyalah syair nyinyir bukan untuk menyindir

Selasa, 12 Februari 2019

Pecundang sakti

Pecundang sakti...

Kaulah si pecundang sakti....
Yang berjalan kian kemari tak ada yang perduli..
Terjatuh berulang-ulang kali..
Yang membuatmu nyaris mati untuk kesekian kali...

Kaulah si pecundang sakti...
Yang menembus batas meraih mimpi
Melewati sejuta sunyi yang Mengasihi
Meskipun hati kecilmu yang kedinginan sepi

Kaulah si pecundang sejati....
Yang terbang meraih berjuta bintang
Melahap gelap yang menantang
Meskipun terang tak pernah menang

Kaulah si pecundang sakti
Yang tak pernah kalah oleh ambisi
Menerjang karang yang menghalangi
Meskipun lelah merenggut emosi

Kaulah si pecundang sakti...
Yang terjebak dalam narasi cerita fiksi
Merangkul imajinasi juga memangku halusinasi....

Kamis, 09 Februari 2017

Si Ular Kadut

Wahai kau si Ular Kadut. . .
Badanmu gendut sampai kebuntut. . .
Hanya mampu jalan beringsut. . .
Menembus malam ditengah kabut. . .

Wahai kau si Uar Kadut. . .
Gerakmu lembut begitu imut. . .
Begitu gemulai kau menyikut. . .
Menutup ganasmu seperti penakut. . .

Wahai kau si Ular Kadut. . .
Kepala menyikuti buntut. . .

Wahai kau si Ular Kadut. . .
Pengecut yang membuat ribut. . .

Jumat, 27 Januari 2017

kepalsuan

nyanyian lengang mengecoh sunyi
seakan berdendang walau tak berbunyi
gemerlap bintang seakan mengecoh malam
seakan benderang dalam kelam. . .

relung jiwa

aku. . .
hanya tersandar di ujung nafas kehidupan
tak mampu untukku gerakkan. . . .
raga ini hanya bisa kaku membeku
menunggu kabut kematian menyelimutiku
aku. . .
tak mampu lagi kaki menapak
lelah diri untuk berdiri tegak
jiwa ini bisa diam membisu. .
menunggu jeritan ajal memanggilku. . .
aku. . .
hanya menanti jilatan api
memelas merasakan panas
meregang perih rasa bara
akankah terhindar dari neraka
aku. . .

Selasa, 04 Juni 2013

Kalbu Kembali

Hempasan angin menerjang paru lemahku
Saat panah hujan menyerang wajahku
Tak hempas badai menghadang
Mengurung abu abu kilaf hidupku

Tak lekang waktu karang yang menyusu
terlalu lemah bayi jiwa meratapi mati
Hingga terburai buai melewati 
saat buih meracau merayu malu
Sebarkan bau amis garam terpintal

langit lelah berucap
Tak ada lagi yang berani
Berteman surya yang membara
sedang wajah langit memerah merona
Mendengar jeritan awan mega kelabu
Yang terbalut lembayung biru meronta

Melepas angin masih mengikat dada
Akan abu abu kilaf hidupku. . .