Hempasan angin menerjang paru lemahku
Saat panah hujan menyerang wajahku
Tak hempas badai menghadang
Mengurung abu abu kilaf hidupku
Tak lekang waktu karang yang menyusu
terlalu lemah bayi jiwa meratapi mati
Hingga terburai buai melewati
saat buih meracau merayu malu
Sebarkan bau amis garam terpintal
langit lelah berucap
Tak ada lagi yang berani
Berteman surya yang membara
sedang wajah langit memerah merona
Mendengar jeritan awan mega kelabu
Yang terbalut lembayung biru meronta
Melepas angin masih mengikat dada
Akan abu abu kilaf hidupku. . .
Selasa, 04 Juni 2013
Kamis, 02 Mei 2013
Hampa
Dengarkan jeritan dari kolong cakrawala
Berbisik lirih merasuki kehampaan jiwa
Itulah Pesan dari ujung surga
Yang tak terdengar oleh telinga kecilmu
Coba kepakan sayap angkuhmu. . .
Selusuri kaki langit cari jawabnya
Tajamkan bening mata hitammu
Pandangi sudut kelam harapku
Untaian air mata yang terlukis di relung hati
Menambah galeri awan hitam di awang-awang
Menumpahkan gundah waduk kesunyian
Dan meniduri setiap malam gersang rinduku. . .
Berbisik lirih merasuki kehampaan jiwa
Itulah Pesan dari ujung surga
Yang tak terdengar oleh telinga kecilmu
Coba kepakan sayap angkuhmu. . .
Selusuri kaki langit cari jawabnya
Tajamkan bening mata hitammu
Pandangi sudut kelam harapku
Untaian air mata yang terlukis di relung hati
Menambah galeri awan hitam di awang-awang
Menumpahkan gundah waduk kesunyian
Dan meniduri setiap malam gersang rinduku. . .
Langganan:
Postingan (Atom)